UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Lampu dipadamkan, layar menyala, dan Bandung Creative Hub berubah menjadi ruang yang dipenuhi tawa, haru, hingga ketegangan.
Sebelas film pendek karya mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sukses menghipnotis penonton dalam ajang Cinematology 3.0, Rabu (15/07/2026).
Ajang tahunan tersebut menjadi panggung apresiasi bagi mahasiswa semester empat dan enam untuk menampilkan karya sinematik mereka.
Sebanyak 11 film diputar, yakni "Sink", "Sunyi", "Hasad", "Empty Within", "Rasiah", "Besok Jadi Apa", "Hening yang Kita Pilih", "Framed Memories", "Impian Tukang Bubur", "Salah Tempat", dan "Somnabulisme".
Beragam tema yang diangkat, mulai dari persoalan psikologis, relasi antarmanusia, hingga isu sosial, berhasil menghadirkan pengalaman emosional bagi penonton.
Kegiatan yang dihadiri mahasiswa lintas angkatan, orang tua, tamu undangan, dan masyarakat umum ini menunjukkan bahwa film mahasiswa telah berkembang menjadi karya seni yang mampu berkomunikasi dengan publik, bukan sekadar memenuhi tugas akademik.
Ketua Prodi KPI UM Bandung Rahmat Alamsyah mengatakan film merupakan bentuk karya budaya yang paling utuh karena memadukan gagasan, sastra, visual, audio, dan seni bertutur.
Menurutnya, film memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan sekaligus menanamkan nilai-nilai kehidupan.
"Film bukan sekadar sarana hiburan, melainkan bisa menjadi jalan menyebarkan nilai-nilai kebaikan Islam. Selain itu, melalui film juga kita bisa berdakwah," ujarnya.
Rahmat mengapresiasi perkembangan kualitas karya mahasiswa dan menegaskan bahwa penguatan bidang perfilman menjadi identitas Prodi KPI UM Bandung.
Ke depan, kurikulum akan diperkuat dengan mata kuliah produksi film agar mahasiswa menguasai seluruh proses kreatif, mulai dari pengembangan ide, penulisan skenario, penyutradaraan, sinematografi, hingga distribusi karya.
Ia menambahkan, Cinematology bukan hanya mengajarkan keterampilan teknis membuat film.
Namun, membentuk mahasiswa menjadi content creator, filmmaker, storyteller, dan dai digital yang mampu menghadirkan karya visual berkualitas dengan berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Sinematografi dan Produksi Film Dakwah Kelik Nursetiyo Widianto menjelaskan bahwa mahasiswa juga dilatih memahami ekosistem industri kreatif melalui promosi film, publikasi di media sosial, hingga penyelenggaraan pemutaran film secara mandiri.
Seluruh karya mahasiswa juga akan didaftarkan untuk memperoleh piagam lulus sensor dari Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Tahun lalu, 12 film mahasiswa KPI UM Bandung berhasil memperoleh piagam lulus sensor.
Salah satu film yang menarik perhatian penonton adalah "Sunyi" karya sutradara muda Anadza Bilqis.
Film tersebut mengisahkan perjuangan seorang mahasiswa tunarungu di bidang komunikasi yang terinspirasi dari pengalaman Ziyan Shafi Nur Fadhilah, mahasiswa KPI angkatan 2023.
"Melalui film ini kami ingin menyampaikan bahwa komunikasi bukan hanya tentang mendengar dan berbicara, tetapi tentang empati, penerimaan, dan saling memahami. Harapannya, penonton dapat melihat bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan meraih impiannya," tutur Bilqis.
Bilqis mengungkapkan, proses produksi "Sunyi" diawali dengan riset mendalam, penyusunan naskah, pengolahan visual, hingga pemilihan aktor yang mampu menggunakan bahasa isyarat agar cerita terasa autentik.
Menurutnya, pengalaman belajar di Prodi KPI UM Bandung membekali mahasiswa untuk terlibat dalam seluruh tahapan produksi film sehingga mampu melahirkan karya yang tidak hanya artistik, tetapi juga membawa nilai dakwah, edukasi, dan kepedulian sosial.
"Ke depannya, saya berharap film-film pendek karya mahasiswa Prodi KPI UM Bandung semakin berkembang. Tidak hanya diputar di lingkungan kampus, tetapi mampu berkompetisi di berbagai festival dan menjadi media dakwah serta edukasi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat," pungkas Bilqis.***









