UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Hidup sederhana bukan berarti hidup dalam kekurangan. Justru, kesederhanaan dapat menjadi jalan untuk menemukan keberlimpahan yang sesungguhnya.
Keberlimpahan bukan hanya tentang banyaknya harta, tetapi juga tentang kemampuan merasa cukup, mengelola rezeki dengan bijak, serta menjadikannya sumber kebaikan dan ketenteraman.
Pesan tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Bandung Yudi Haryadi dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji Aisyiyah Jawa Barat pada Selasa (1/9/2026).
Mengangkat tema “Hidup Sederhana tapi Berkelimpahan”, Yudi mengajak umat Islam mengubah cara pandang tentang arti kaya dan berkecukupan.
Menurutnya, ukuran keberlimpahan tidak selalu ditentukan oleh jumlah harta. Kekayaan hati, keberkahan rezeki, dan ketenangan hidup juga menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
“Cara pandang ini penting di tengah kehidupan modern yang membuat seseorang mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Ukuran keberhasilan akhirnya sering bergeser menjadi soal seberapa banyak yang dimiliki, apa yang bisa dibeli, atau seperti apa gaya hidup yang ditampilkan,” ujar Yudi.
Ia mengatakan, banyaknya harta belum tentu membuat seseorang lebih tenang. Penghasilan besar dan berbagai fasilitas tidak akan banyak berarti jika keinginan terus bertambah dan rasa cukup tidak pernah hadir.
Oleh karena itu, kesederhanaan bukan sekadar mengurangi pengeluaran. Lebih dari itu, kesederhanaan berarti mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, mengendalikan gaya hidup, serta menempatkan harta sebagai sarana untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Dalam perspektif ekonomi syariah, rezeki juga bukan hanya tentang bagaimana seseorang mendapatkan penghasilan.
Ada amanah yang harus dijalankan, yaitu menggunakan harta secara baik, memenuhi kebutuhan keluarga, menghindari sikap berlebihan, dan memberi manfaat kepada orang lain.
Dengan begitu, mengelola keuangan bukan sekadar persoalan menghitung pemasukan dan pengeluaran. Mengelola rezeki juga menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keberkahan hidup.
Penghasilan yang dikelola dengan bijak dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan, mempersiapkan masa depan, membantu sesama, sekaligus menghindarkan diri dari perilaku konsumtif.
“Kesederhanaan bukan berarti menolak kemajuan atau harus hidup serba kekurangan. Justru, kesederhanaan membuat hidup lebih terarah karena seseorang tahu apa yang benar-benar dibutuhkan dan untuk apa rezekinya digunakan,” imbuh Yudi.
Menurutnya, kebiasaan hidup sederhana dapat dimulai dari keluarga. Misalnya dengan membuat skala prioritas, tidak mudah mengikuti gaya hidup orang lain, mengurangi konsumsi yang tidak perlu, menggunakan penghasilan secara bertanggung jawab, dan menyisihkan sebagian rezeki untuk berbagi.
Kesederhanaan juga mengajarkan qanaah, yaitu kemampuan untuk merasa cukup atas apa yang Allah karuniakan tanpa berhenti berusaha. Rasa cukup bukan berarti pasrah atau malas, tetapi membantu seseorang tetap tenang sembari terus berikhtiar.
Yudi menegaskan bahwa kaya secara materi dan kaya secara hati merupakan dua hal yang berbeda. Harta akan menjadi nikmat ketika diperoleh dengan cara yang baik dan digunakan untuk menghadirkan manfaat.
“Rezeki yang berkah bukan sekadar membuat hidup terasa cukup, melainkan mampu menjadi jalan menghadirkan manfaat bagi keluarga, sesama, dan lingkungan,” tandasnya.
Pada akhirnya, hidup sederhana bukan tentang memiliki sesedikit mungkin. Kesederhanaan adalah kemampuan menempatkan segala sesuatu secara proporsional: bekerja dengan sungguh-sungguh, menikmati rezeki tanpa berlebihan, memenuhi kebutuhan dengan bijak, dan berbagi ketika memiliki kelebihan.
Sebab, keberlimpahan tidak hanya dapat dilihat dari seberapa banyak yang masuk ke rekening, tetapi juga dari seberapa banyak kebaikan yang lahir dari rezeki tersebut.
Bagi seorang muslim, yang terpenting bukan hanya seberapa banyak rezeki yang Allah titipkan, tetapi seberapa baik amanah itu dikelola dan seberapa luas manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
(FA)









