UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kebangkitan umat Islam tidak cukup dengan mengingat kejayaan masa lalu. Mengenang sejarah masa lalu harus jadi spirit.
Hal yang lebih penting adalah bagaimana umat mampu membaca kondisi saat ini, memahami persoalan yang dihadapi, lalu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan modern.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Adian Husaini dalam Dialog Nasional Keagamaan Awaken Chapter 2 bertajuk “Persatuan Umat Islam: Spirit Kemerdekaan Menuju Kebangkitan Umat” yang digelar BEM UM Bandung bersama Rumah Pemuda Madani, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Adian, umat Islam memiliki modal penting untuk bangkit, yakni Al-Qur’an sebagai sumber ajaran dan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan.
Oleh karena itu, tantangannya bukan mencari pedoman baru. Namun, bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan sesuai dengan kebutuhan zaman.
“Manusia dan panduannya sama. Sekarang kita tinggal mengaktualisasikannya dengan disesuaikan dengan kondisi saat ini,” ujar Adian.
Ia menegaskan, kebangkitan umat tidak hanya berkaitan dengan politik. Kebangkitan juga harus terlihat dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, kehidupan sosial, sains, teknologi, dan kebudayaan.
Dalam konteks pendidikan, Adian mengajak umat mengevaluasi apakah sistem pendidikan saat ini sudah mampu melahirkan manusia yang berilmu, berkarakter, dan memiliki orientasi kehidupan yang baik.
Adian juga menilai perbedaan latar belakang organisasi tidak seharusnya menjadi penghalang persatuan.
Pengalamannya belajar di pesantren hingga kemudian terlibat dalam Majelis Tablig Pimpinan Pusat Muhammadiyah menunjukkan bahwa titik temu umat tetap dapat dibangun di atas sumber ajaran Islam dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.
Ia kemudian mengajak peserta melihat sejarah Islam secara lebih kritis. Setelah hijrah Rasulullah SAW pada 622 Masehi, umat Islam berkembang menjadi kekuatan besar dan melahirkan berbagai pusat peradaban, termasuk di Andalusia.
Namun, sejarah tidak semestinya hanya menjadi bahan kebanggaan. Sejarah perlu menjadi cermin untuk melihat posisi umat saat ini.
Sekaligus menjawab pertanyaan: apakah perjuangan umat sudah berhasil, di mana kelemahannya, dan apa yang perlu diperbaiki?
Adian mengingatkan pesan Mohammad Natsir tentang pentingnya mengetahui “sekarang pukul berapa”.
Pesan ini mengajarkan bahwa setiap perjuangan membutuhkan kemampuan membaca keadaan, memahami persoalan, dan menentukan langkah yang tepat.
Dalam konteks Indonesia, Adian juga membedakan antara kemerdekaan dan kemampuan mengisi kemerdekaan.
Setelah terbebas dari penjajahan, tantangan berikutnya adalah memastikan kemerdekaan membawa kemajuan melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, karakter, dan kehidupan sosial.
Dengan begitu, semangat kemerdekaan tidak berhenti pada perayaan sejarah, tetapi menjadi dorongan untuk membangun masa depan.
Bagi Adian, umat Islam sudah memiliki sumber ajaran dan teladan yang kuat; tantangannya adalah menjadikannya kekuatan nyata untuk menjawab persoalan zaman.
Dialog tersebut turut menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat Usep Sudrajat dan dosen Universitas Brawijaya A Dedi Mulawarman.***









