UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Penguasaan bahasa Arab tidak cukup hanya mengandalkan hafalan kosakata dan pemahaman tata bahasa. Dibutuhkan lingkungan yang mendukung agar peserta didik terbiasa mendengar, memahami, dan menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Wakil Dekan FAI UM Bandung Cecep Taufikurrohman saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional bertajuk “Pembelajaran Bahasa Arab Berkemajuan di Pesantren Muhammadiyah” yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan FAI UM Bandung dan Uhamka pada Sabtu lalu.
Dalam forum tersebut, Buya Cecep—sapaan akrabnya—mengajak para pendidik dan pengelola pesantren untuk membangun bi’ah lughawiyah atau lingkungan berbahasa Arab yang hidup, aktif, dan berkelanjutan sebagai fondasi utama keberhasilan pembelajaran bahasa Arab.
Menurutnya, kemampuan berbicara dalam bahasa Arab tidak muncul secara instan. Keterampilan tersebut tumbuh melalui proses mendengar bahasa yang benar secara terus-menerus hingga akhirnya mampu dipahami dan digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
“Berbicara yang baik berawal dari mendengar yang baik. Oleh karena itu, santri perlu dibiasakan mendengar bahasa Arab yang benar sebelum mereka mampu menggunakannya secara aktif,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Buya Cecep memperkenalkan metode istami’ wa takallam, yaitu pendekatan pembelajaran yang menekankan keterampilan menyimak (istima’) dan berbicara (kalam). Metode ini dilakukan melalui tahapan mendengar, memahami, menirukan, lalu berbicara.
Melalui pendekatan tersebut, santri tidak hanya mempelajari teori bahasa Arab, tetapi juga terbiasa menggunakannya dalam berbagai situasi komunikasi. Dengan demikian, proses belajar menjadi lebih alami dan aplikatif.
Dosen lulusan Universitas Al-Azhar Mesir itu juga menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan model bahasa Arab terbaik yang dapat dijadikan rujukan dalam pembelajaran. Oleh sebab itu, penguasaan makharijul huruf dan pelafalan yang benar harus menjadi perhatian utama sebelum peserta didik mempelajari keterampilan bahasa yang lebih kompleks.
“Jika pengucapan huruf dan kosakata sudah benar, maka proses menirukan dan berbicara akan berkembang lebih mudah,” jelasnya.
Untuk menciptakan lingkungan bahasa yang efektif, Buya Cecep menilai guru harus menjadi teladan dalam penggunaan bahasa Arab. Guru dapat memulai dengan menggunakan ungkapan dan kalimat sederhana dalam aktivitas sehari-hari, baik di dalam kelas maupun di lingkungan pesantren.
Selain peran guru, lingkungan belajar juga perlu diperkaya dengan berbagai unsur berbahasa Arab, seperti label nama benda, poster kosakata, ungkapan harian, hingga jadwal kegiatan yang ditulis dalam bahasa Arab. Upaya tersebut memungkinkan santri terus berinteraksi dengan bahasa Arab meskipun tidak sedang mengikuti pembelajaran formal.
Buya Cecep juga mendorong pemanfaatan berbagai media pembelajaran yang menarik dan interaktif. Audio, video, gambar, kartu kosakata (flash card), hingga kegiatan bermain peran (role play) dinilai mampu membantu santri memperkaya kosakata, meningkatkan kemampuan menyimak, sekaligus menumbuhkan keberanian berbicara.
Menurutnya, kesempatan praktik harus diberikan seluas-luasnya kepada santri. Kegiatan seperti percakapan berpasangan, tanya jawab, presentasi singkat, diskusi kelompok, hingga simulasi percakapan dapat menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi.
“Semakin sering santri menggunakan bahasa Arab, semakin cepat pula keterampilan berbicaranya berkembang,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan. Guru diharapkan memberikan apresiasi terhadap usaha santri, menghindari kritik yang berlebihan, serta membangun kepercayaan diri mereka untuk terus berlatih.
“Santri tidak boleh takut salah. Justru dari proses mencoba, berlatih, dan memperbaiki kesalahan itulah kemampuan bahasa akan tumbuh,” tuturnya.
Di era digital, Buya Cecep melihat teknologi sebagai peluang besar untuk memperkuat pembelajaran bahasa Arab. Berbagai platform seperti video edukatif, podcast, aplikasi percakapan, hingga rekaman suara dapat dimanfaatkan untuk melatih kemampuan menyimak dan berbicara secara lebih fleksibel.
Melalui penerapan metode istami’ wa takallam yang didukung lingkungan bahasa yang kondusif, ia berharap pesantren Muhammadiyah mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memahami teori bahasa Arab, tetapi juga mampu menggunakannya secara aktif, percaya diri, dan komunikatif.
“Pembelajaran bahasa Arab yang berkemajuan harus menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan santri,” pungkasnya.***(FA)